Jumat, 09 Oktober 2015

cerpen

penantian yang sempurna

matkul matematika akhirnya sudah selesai,para mahasiswa\ipun berbondong-bondong keluar kelas. Meskipun ada beberapa dari mereka yang masih di dalam kelas. Termasuk, Fira. Fira masih berada di dalam kelas karena ia masih mencatat tulisan yang ada di papan tulis. Sementara teman-teman kelasnya sudah keluar kelas terlebih dahulu. Fira yang tinggal seorang diri di kelas tak tergugah untuk melewatkan tulisan penting dari dosen mtk di papan tulis.
Selesai mencatat, ia merapikan alat tulisnya dan memasukkan ke dalam tasnya. Ia pun bergegas ke luar kelas karena hari sudah cukup sore. Fira melewati koridor, ia mendengar teriakan anggota cheerleader yang menyemangati pertandingan basket. Koridor kampus memang dekat dengan lapangan. Sorak sorai mereka memang sangat menghebohkan. Ya, maklum saja ketua cheers adalah Adilla yang suaranya cetar membahana seantero kampus.
BUG!
Bola basket mengenai Fira sampai kacamata yang dipakai Fira terjatuh. Fira masih berdiri walaupun ia agak pusing kena hantaman bola basket yang cukup keras. Sang kapten basket sekolah keluar lapangan ia menghampiri Fira. Krek! Kapten basket yang bernama yama menginjak kacamata Fira sampai lensanya hancur dan bingkainya patah.
"Sorry, ya, lo gapapa kan?" Yama merasa tidak enak karenanya Fira kena bola basket.
Fira tak menggubris permintaan maaf Yama. Fira membereskan pecahan kaca mata ia mengambil kotak kacamata dan menaruhnya. Perasaan kesalpun menyelimuti dirinya. Rasanya ia ingin menghantam Yama dengan bola basket yang ada di dekatnya. Bagaimana bisa Yama melakukan kesalahan dua kali seperti ini.
Fira bangkit. Ia tak sadar kalau tali sepatunya belum diikat. Parahnya lagi, Yama menginjak tali sepatu Fira akhirnya Fira terjatuh. Tepat dahi dan bibirnya menyentuh lantai koridor. Memalukan! Batin Fira. Sementara anak-anak yang melihat kejadian itu tertawa tanpa dosa padahal Fira sedang kesakitan.
"Gue...minta maaf." Kata Yama.
Tak peduli berapa maaf yang Yama ucapkan. Fira terlanjur malu dan ia meninggalkan Yama karena tak kuat menjadi bahan tertawaan siswa lainnya.
Langkah Fira semakin pelan ia merasa bahwa hari ini tertimpa sial. Lucunya, kesialan itu terjadi secara berturut-turut. Ia masih berpikir apa yang akan ia katakan pada saudara tirinya atas kacamata yang pecah. Itu kan pemberian dari Poppy. Pasti Poppy sangat marah kalau pemberiannya hancur. Dan Ayah akan membelanya begitupun ibu. Ia pasrah kalau kena marah orang-orang rumah.
Fira duduk di halte sambil memandangi kotak kacamata yang hancur. Ia tak peduli dengan memar di kepala atas insiden tali sepatu tadi. Fira menghela nafas, rasanya hari ini berat sekali. Belum lagi pasti besok teman-teman akan menertawakannya karena memar di kepalanya itu.
Cheees!

Metromini berhenti di depan halte. Fira masuk ke dalam metromini. Bau dan sesak itulah yang dirasakan. Apalagi sore begini, jam orang pulang sekolah. Alhasil Fira nggak kebagian tempat duduk. Ia memegangi besi panjang metromini agar tak terjatuh karena metromini cukup ngebut dan terkadang ugal-ugalan.
"Dek, duduk sini aja." Seorang pria menawarkan bangku. Fira menggeleng karena ia merasa masih kuat berdiri.
"Duduk aja dek, lagian saya mau turun kok."
Akhirnya Fira menerima tawaran pria itu. Fira pun duduk. Ia memandangi pria itu. Katanya mau turun tapi ia masih berdiri sambil memegang tiap di atap metro. Fira merasa tidak enak. Karenanya orang jadi kesusahan.
"Warung, warung, warung." Kenek metro berteriak.
Pria itupun turun, begitupun Fira. Fira masuk ke stasiun, pria itupun juga. Mereka menunggu kereta dan duduk di bangku yang ada di stasiun. Fira duduk berseblaahan dengan pria itu. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Yang terdengar hanya suara kereta barang yang melewati rel. Sangat keras bahkan bagi yang belum biasa bunyi kereta itu sangat memekakkan telinga.
"Dek, anak trisakti?" Tanya pria itu.
Fira mengangguk.
"Gak biasanya liat anak trisakti naik metromini. Biasanya diantar pake mobil. Hehe." Pria itu terkekeh.
Fira merasa pria ini terlalu mencampuri urusannya. "Ya emang kenapa kalo naik metromini? Ada aturannya, ya?" Fira agak ketus.
Pria itu menggeleng. "Yo, ndak usah diambil hati dek. Cuman bercanda."
"Jangan bilang kakak ini anak kampus sebelah kampus saya?" Fira mencoba ramah.
Pria itu terkekeh. Sepertinya dugaan Fira seratus persen benar. "Nah tuh tau dek,"
Adam. Begitulah tulisan di jaket yang dikenakan pria itu. Fira mengangguk pelan seraya paham akan sesuatu. Pria itu heran kenapa Fira menganggukkan kepala.
"Kenapa dek ngangguk-ngangguk?"
 "Gapapa,"
"Dahi kamu memar tuh. Kenapa? Kesandung apa kena hantam bola?"
Fira kaget kenapa pria itu bisa tahu kejadian yang dialami Fira. Fira memandang Adam heran. Adam pun merasa senang kalau-kalau dugaannya benar. Fira memegangi dahinya mengeluarkan segaris darah. Dengan sigap, Adam mengeluarkan hansaplast dari sakunya dan memberikannya pada Fira.
"Pake dulu aja dek,"
"Makasih." Fira membuka plester dan memakai pada dahinya.
"Pertanyaan kakak belom dijawab, kenapa bisa memar gitu?"
"Kesandung tadi temen nginjak tali sepatu."
Tak lama kereta mereka datang. Sudah sore memang kereta cukup berdesakkan. Adam menarik Fira yang tidak bisa naik ke kereta karena peronnya cukup tinggi. Mereka berada di gerbong dua. Gerbong campuran lelaki dan wanita.
***
"Aku pulang," Adam membuka pintu rumah. Tampak sepi seperti biasanya. Rumah memang selalu sepi paling yang ada hanya si Bibi.
Adam naik tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Sesampainya di kamar, ia melempar ranselnya yang cukup berat ke kasur. Adam melihat secarik kertas. Adam memgambil secarik kertas itu dan membacanya perlahan.
Adam, mama ada meeting di Surabaya. Lalu, papa ada pertemuan di Jogja. Uang jajan udah mama transfer ke rekening kamu. Jaga kesehatan ya.
Membaca surat itu Adam meremasnya dan melemparnya ke tong sampah. Rasanya, ia hidup hanya dengan Bibi. Orang tua terlalu sibuk kerja, kerja, dan kerja. Mana ada waktu hangout bersama? Cih, hangout? Makan di meja yang sama saja jarang.
Tok..tok
"Masuk, nggak dikunci."
Bi Inah membawa beberapa snack dan segelas jus mangga. Bi Inah menaruh panganan dan minuman tersebut di meja belajar. Setelah itu, Bi Inah pun keluar kamar.
"Bi,"
"Nggeh, den. Ono opo?"
"Makasih ya, tau aja saya lagi laper."
"Kalo laper makanannya ada di meja makan ya den."
"Iya, Bi."
***
Fira sedang sibuk belajar bahasa inggris. Agak menyulitkan tanpa kacamata. Pandangan Fira agak sedikit buram padahal sudah pakai lampu duduk untuk belajar tapi itu belum mampu membantu penglihatannya. Apa boleh buat untuk hari ke depan Fira tidak pakai kacamata minus, walaupun masalah baginya.
Poppy membuka pintu kamar. Ia masuka kamar Fira tanpa permisi. Itu sudah biasa bagi Fira, Poppy memang orangnya begitu. Lagipula, ini kan rumah Poppy jadi wajar saja ia melakukan semuanya. Ya, semenjak ayahnya Poppy dan ibunya Fira menikah, sesungguhnya Fira kurang nyaman. Ia justru menolak pernikahan ini. Ingin sekali ia menginap di rumah ayahnya di Depok daripada harus diganggu Poppy.
 "Gue minjem pulpen dong."
"Ambil aja ya di tas."
Poppy menggeledah tas Fira. Ia menemukan pulpen, ia mengambil tiga pulpen yang baru Fira beli dua hari yang lalu. Poppy mengambil kotak kacamata yang ia berikan pada Fira, beberapa bulan lalu. Ternyata kacamata darinya kini hancur lebur.
"Apa-apaan nih?!" Poppy emosi.
"Ada apa?" Fira bangkit dari bangku.
Poppy menggelengkan kepala. "Kacamata dari gue lo ancurin? Lo gatau nih kacamata harganya berapa? Bingkainya aja mahal Ra,"
"Ya, gue minta maaf. Tadi di sekolah ada insiden jadi ya gini."
Tiba-tiba mama datang.
"Ada apa ribut-ribut?"
"Kacamata dari aku masa Fira ancurin. Ini kan mahal ma," Poppy merengek
"Ya, aku minta maaf ma. Nanti aku ganti ma," Fira mencoba meluruskan segalanya.
"Heh, Ra, kamu pikir semua bisa kelar dengan uang?!!"
"Udah dong kalian jangan ribut!" Mama melerai.
Fira mengeluarkan lembaran uang dari dompet dan memberikannya pada Poppy. Poppy melihat Fira kesal tapi di sisi lain sayang juga kalau uang dari Fira dibuang mending buat teraktir teman-teman di sekolah.
Fira mengambil buku di meja belajar dan keluar kamar. Ia pun pergi keluar rumah. Fira berjalan dan terus berjalan sambil mencari tempat singgah untuk belajar. Bunyi perutnya keroncongan, ia menemukan pos di mana di situ ada tukang nasi goreng lagi mangkal. Fira menghampiri tukang nasi goreng dan duduk di pos.
"Nasi goreng satu, gak pake mecin, gak pedes." Pinta Fira.
"Payah, masa nggak pedes?" Celetuk Adam yang ternyata duduk di pinggiran pos sambil makan nasi goreng.
"Kamu?" Fira kaget kenapa bisa bertemu Adam di sini?
"Kamu papparazi, ya?" Lanjut Fira
Adam tertawa, ia pun tersedak mendengar pertanyaan Fira. Papparazi? Ya, mungkin ini suatu takdir. Pertemuan kan bukan kebetulan tapi suratan. Adam meneguk segela air putih sementara Fira menunggu tukang nasi goreng membuatkan pesanannya.
"Kamu aneh ya, saya bukan papparazi. Rumah saya dekat sini. Jadi wajar kan kalo saya makan di sini. Kamu sendiri?"
"Saya sih emang rumahnya deket sini Blok C3." Fira menjelaskan.
Tak lama pesanan Fira datang. Fira tak memperdulikan Adam ada di situ karena ia lapar iaenyantap nasi goreng tersebut sambil membuka buku pelajaran. Adam yang melihat Fira begitu sibuk jadi iba. Mana bisa Fira melakukan dua kegiatan? Makan dan belajar?
"Ada tugas apa dek?"
"Bahasa inggris." Jawab Fira sambil menyantap nasi goreng.
"Aku kan ambil jurusan inggris dek,  sini saya bikin rumus tenses dibuku adek."
"Gak usah,"
"Kenapa? Udah abisin dulu tuh nasi goreng."
"Iya Kak Adam." Fira menyantap nasi goreng.
Adam tercengang kenapa Fira tahu namanya. "Kamu tau nama saya?"
"Dari jaket yang kemarin dipakai," Fira melahap nasi goreng lagi.
"Oh itu," Adam menuliskan beberapa tenses di buku Fira.
***
Satu, dua, dan tiga hari. Yama datang menghampiri Fira meminta maaf. Sebenarnya dari jauh-jauh hari Fira sudah memaafkannya tetapi ia malas bilang kalau ia sudah memaafkan kejadian tersebut mengingat sikap Poppy yang kemarin memarahinya. Belum lagi uang simpanannya habis dikasih ke Poppy daripada Poppy ngoceh mulu. Padahal kacamata itu katanya untuknya kenapa Poppy malah marah.
"Yaudahlah, ya Yama. Udah dimaafin dan please jangan ganggu lagi." Kata Fira, ia pun melanjutkan baca buku di pinggir koridor.
"Bener nih dimaafin?"
"Ya,"
"Nanti malam ada acara nggak?"
"Ada." Jawab Fira singkat.
"Apa?"
"Belajar. Soalnya UTS udah mendekat!"
Yama menggaruk kepalanya. Padahal malam ini, Yama ingin mengajak Fira ke suatu tempat tapi kenapa susah sekali. Alasannya pun belajar. Tidak usah belajar juga Fira sudah pintar.
"Kali ini aja deh Fir, please."
"Nggak bisa, kan udah dibilang jangan ganggu Fira. Yama dibilang nggak ngerti juga ya," Fira semakin kesal.
"Sekali aja sih,"
Rasanya terlalu jual mahal kalau menolak permintaan maaf teman yang sungguh-sungguh. Fira akhirnya pikir dua kali untuk tolak tawaran Yama. Sepertinya ia setuju dengan tawaran Yama. "Yaudah," Fira melipat lembaran buku.
"Di cafe hoki ya, jam 7. Gue jemput lo depan rumah lo ya."
Fira mengangguk. "Eh, emang tau rumah Fira?"
"Tau lah, kemarin gue buntutin lo kali," Yama keceplosan.
"Sampai ketemu nanti malam." Lanjut Yama dan kabur begitu saja.
***
Tepat jam 7. Fira menunggu Yama di depan gerbang rumahnya. Sebenarnya ia takut kalau ketahuan sama mama dan papa. Apalagi Poppy yang mulutnya ember kalau belum disogok pakai uang. Sudah lima menit Fira menunggu. Sesekali ia memeluk badannya, padahal ia sudah pakai baju panjang tapi angin malam semakin dingin.
Suara motor terdengar mendekat ke arah Fira. Lampu yang cukup menyilaukan membuat Fira menutup matanya. Yama pun membuka helm dan menyuruh Fira naik ke motor. Yama menggeber motornya dan mereka pun menaiki motor berdua. Ternyata, Poppy si mulut ember melihat kejadian itu dan pikiran licik pun mulai meracuni pikirannya.
Suara motor Yama memang cukup keras. Setidaknya suara motor itu membuat keramaian tersendiri. Tak ada satupun yang memulai percakapan. Yama sibuk mengendarai motor. Sedangkan Fira hanya diam tanpa kata sambil memandangi jalanan.
"Sepi aja Fir," Yama memulai percakapan.
"Fir, tidur ya?"
"Enggak, sebenarnya kita tuh mau kemana? Cafe hoki tuh belok kanan,"
 Yama sebenarnya berencana pergi ke tempat lain. Ia ingin membelikan kacamata baru untuk Fira. Karena selama tak pakai kacamata Fira agak terganggu dengan penglihatan dan Fira lebih memilih pinjam catatan kawannya daripada melihat papan tulis.
Mereka sampai di sebuah mall kawasan Jakarta Utara. Yama mengajak Fira ke sebuah optik. Optik itu adalah milik mamanya Yama. Fira melihat berbagai kacamata bagus di sana. Ia hanya berani melihat karena uangnya pasti tak cukup.
"Ini teman kamu yang kamu ceritain? Yama?" Tanya Mama Yama sambil tersenyum.
"Nama saya Fira, tante."
"Oh, Fira. Ayo dipilih kacamatanya. Kamu min berapa, Fir?"
"Minus dua tante."
Mama Yama memeriksa mata Fira untuk memastikan kacamata yang cocok. Sementara Yama duduk di sofa sambil main get rich.
"Nah, ini cocok buat kamu." Mama Yama memberikan kacamata lengkap dengan pembersih dan casenya.
"Ini berapa tante?"
"Gak usah, itu buat kamu. Tante tau kacamata kamu dirusak kan sama si Yama."
"Tapi ini berlebihan,"
"Enggak kok, sering-sering main kesini ya, Fira."
Suara pintu terdengar. Ternyataa ada seorang pria masuk. Yama menyambut pria itu dengan akrab begitupun Mama Yama. Fira yang sedang mencoba kacamata barunya pun berbalik ingin melihat siapakah sosok tersebut. Ternyata, sosok itu.....Adam.
"Kamu," Adam dan Fira bebarengan.
Fira tidak tahu kenapa perasaannya tidak karuan begini. Sebenarnya ia sudah bertemu Adam secara tak sengaja selama dua kali. Dan ini yang ketiga, tapi rasanua berbeda rasanya berbeda dengan pertemuan sebelumnya.
"Kalian saling kenal?" Yama heran.
"Rumah kita deketan, kita juga udah ketemu secara enggak sengaja dua kali. Dan ini yang ketiga."
Mama Yama bahagia karena Adam mengenal Fira juga. Jadi semakin seru malam ini karena semuanya sudah saling kenal. Mama Yama menelepon makanan delivery order untuk diantar ke optiknya.
"Jangan-jangan kalian berjodoh." Celetuk Mama Yama.
Yama yang mendengar itu sontak langsung berdiam.
"Btw, saya masih nggak tau nama kamu. Nama kamu siapa?" Tanya Adam pada Fira. Adam mengulurkan tangannya.
"Fira." Fira menjabat tangan Adam. Fira merasa aliran darah mengalir begitu cepat. Ia bingung apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Makanan datang!!' Mama Yama membawa banyak makanan karena tadi si pengantar makanan sudah datang. "Ayo, kita makan-makan!"
"AYOOOOO!!!!" Adam dan Yama sangat bersemangat.
***
Kedekatan Adam dan Fira semakin berlanjut. Tanpa sepengetahuan Yama ternyata Fira dan Adam suka bertemu. Adam dan Fira kalau bertemu hanya makan dan belajar bersama. Terlebih Fira banyak belajar dari Adam tentang mata pelajaran yang sulit. Fira baru tahu kalau kebahagiaan itu bisa ditemukan kapanpun.
Begitupun Yama di kampus selalu mendekati Fira. Fira menganggap itu wajar karena Yama adalah temannya. Yama sering minta bantuan Fira untuk mengajarkannya pelajaran eksakta yang susahnya bukan main apalagi beberapa hari lagi UTS akan tiba.
Lalu, Poppy yang tak henti-hentinya tiap minggu minta jatah mingguan karena ia mengancam kalau Fira tak memberikannya uang. Poppy tak segan-segan membocorkannya pada papa dan mama. Padahal Poppy sendiri suka jalan sama cowok dan Fira tak pernah minta uang buat jaga mulut.
Hari ke hari, hari semakin berat buat Fira karena ia harus belajar ekstra keras demi UTS. Hari yang menegangkan pun tiba. Fira menyambut hari itu dengan was-was. Tak lupa ia berdoa pada Allah agar dimudahkan dalam mengerjakan soal Uts. Sampai hari twrakhir Uts, Fira pun terus berdoa mrminta yang terbaik.
waktu mengerjakan soal pun selesai. Wajah anak kelas teknik pun cerah dan ceria karena UTS telah usai. Begitupun Yama, sanking leganya ia langsung menghampiri Fira untuk mengajaknya makan siang bersama.
"Punya waktu luang, Fir?"
" Ada apa, Yama?"
"Pengin ngajak Fira makan siang sih, bisa?"
Fira menggaruk kepalanya. "Gimana ya, hari ini Fira ada janji sama orang lain. Lain kali ya, Yama."
"Orang lain itu Adam?"
Fira hanya teraenyum malu. Tak lama Adam datang,  ia menunggu di gerbang kampus dan naik metromini bersama. Rencananya mereka ingin pergi ke Depok menemui Papa kandung Fira. Sesampainya di sana, Fira dan Adam masuk ke rumah Papa Fira yang sederhana tapi asri. Disana banyak tanaman dan nampak sejuk sekali.
Semua tanaman itu dirawat Papa Fira sendiri karena Papa Fira suka tanaman. Ditambah Papa Fira waktu kuliah jurusan Protekai Tanaman. Sekarang pun, ia bekerja di laboratorium pertanian yang letaknya dekat Fira kuliah sekarang.
"Pa, kenalin ini teman Fira."
"Saya Adam, Om." Adam memperkenalkan diri dengan sopan.
Papa Fira tersenyum melihat Fira sekarang. Tampaknya putri kecilnya sudah dewasa dan sudah bisa memilih mana teman yang baik. "Teman apa pacar, nih?" Ledek Papa sambil tersenyum.
Mendegar itu Fira jadi malu. Tapi di sisi lain ia cukup sedih karena sebenarnya hubungannya dengan Adam itu apa. Terlalu jauh untuk dibilang pacar dan dibilang pacar juga bukan. Fira memutuskan untuk masuk ke dapur mengambil air dingin. Adam pun membuntutinya.
"Sebenarnya kita tuh apa sih?!" Tanya Fira sambil menuang air es ke dalam gelas.
"Menurut kamu?"
"Aku nggak bercanda Adam, kita tuh apa? Maksud aku, aku dan kamu itu apa? Jujur aku juga bingung."
 "Lalu, kalo aku dan kamu udah jadi kita. Kamu mau apa? Keadaannya sama kan? Lagian aku nggak akan kemana-mana." Jawab Adam enteng.
Fira membanting pintu lemari es. "Aku nggak ngerti, susah ya ngomong sama kamu!" Fira meninggalkan Adam sendiri di dapur.
Tak lama Adam pun keluar dan ia melihat Fira yang sedang kesal duduk di bangku yang ada di teras. Adam pamit pulang.
"Kamu enggak pulang, nak? Nanti papa mama kamu cariin kamu lho." Kata Papa sambil menyemprot cairan entah cairan apa ke tanaman.
"Enggak, nanti aku telepon mama." Jawab Fira dengan nada agak kesal.
"Yaudah, Om. Saya pamit ya,"
"Ra, aku pamit ya."
"Heeem," Jawab Fira.
Tak terasa hari sudah malam. Tak lupa, ia mengabari mama bahwa ia hari ini tidak pulang ke rumah karena ia ingin bersama papanya di Depok. Fira ingin refreshing setelah UTS. Mengingat perdebatannya dengan Adam. Ia menjadi semakin kesal.
"Nak," Papa menggeser bangku dan duduk di teras.
"Iya, Pa? Papa nggak tidur?"
Papa menggeleng. "Kamu kenapa gak tidur? Kepikiran cowok tadi ya? Hayoo ngaku."
"Papa apaan sih?"
"Ngaku aja."
Fira menghela nafas. "Dia tuh maunya apa ya, dia nggak ngasih kejelasan sama Fira. Sebenarnya aku sama dia tuh apa. Fira kesel Pa, ini kan hati Pa,"
"Gini lho nak, papa bisa lihat dia itu baik sama tanggung jawab. Dia gak akan ninggalin kamu kok, kamu tau kenapa dia bingung saat ditanya kayak gitu?"
"Enggak, terus kenapa?"
"Karena dia takut kehilangan kamu. Dia sebenarnya ingin kaya orang-orang yang pacaran di publikasi tapi dia mikir apa sekarang dia udah pantas buat kamu atau belun. Dia juga masih kuliah nak, apalagi baru semester empat."
"Jadi gitu, terus Fira harus gimana, Papa?"
"Ya, kamu jangan kebanyakan nuntut ndok, jalanin aja. Lagian kalian kan masih muda. Jalani aja dulu,"
"Makasih, ya, Pa."
Bip!
Adam
Shalat dulu sana ntar ketiduran.
"Tuh pasti dia."
"Kok tau?"
"Taulah muka kamu langsung merah gitu, shalat dulu sana nanti ketiduran, ndok."
"Iya, Papa."
****
Sudah dua minggu Fira belum pulang ke rumah Papa tirinya. Ia masih ingin menghabiskan waktunya di Depok dengan Papa. Tak terasa pengumuman NILAI UTS pun sudah bisa dilihat diwebsite universitas ,Fira membuka website dan mengisikam nomor.
sempurna !! ya..nlai UTS fira sempurna dengan nilai A semua
"PAPA......" teriak Fira
Papa Fira kaget setengah mati mendengar lengkingan teriakan dahsyat putrinya dari depan teras rumah. Papa yang sedang menyeduh kopi pun meninggalkan secangkir kopi yang belum diberi gula dan belum juga diaduk.
"Opo toh, ndok. Papa lagi nyeduh kopi."
“liat paa nilai fira udah keluar dan sempurna." Fira memeluk papanya.
"Alhamdulillah Ya Allah," Papa mengucap syukur begitupun Fira.
Setela bereuforia dengan Papa. Fira langsung mengabari Adam. Tapi tak ada balasan darinya. Fira mencoba menghubungin Adam melalui Whatsapp, LINE, sms, dan juga menelepon tapi Adam tak menggubrisnya. Padahal nomornya aktif.
Beberapa hari kemudian, Adam tak pernah muncul di beberapa sosial media. Bahkan saat Fira menghubungi Adam tak pernah menjawabnya. Entah mengapa Adam menghilang seolah ditelan waktu menghilang tanpa jejak dan pamit. Fira semakin dilema. Ia hanya bisa sabar menghadapi sikap Adam yang aneh.
Hari itu tiba, di mana Fira harus pergi ke Malang untuk berlibur kesana kerumah nenek dan kakek fira,karena sudah lama fira tidak berkunjung.Fira berangkat menuju Stasiun Senen. Bawaannya yang cukup banyak membuatnya kewalahan. Papa tak bisa mengantarnya karena Papa sibuk bekerja. Yama pun tak bisa datang karena ia ada urusan mendadak. Lalu, Adam. Fira hanya bisa menatap ponsel yang wallpapernya adalah dirinya dan Adam.
Kereta datang. Fira langsung masuk ke gerbong dan mencari tempat duduknya. Setelah menemukan tempat duduk yang cocok dengan nomor tiket. Fira duduk seorang diri di sana. Ia menghela nafas panjang rasanya berat meninggalkan keluarga tiri, Papa, dan Mamanya.
Kereta berbunyi tandanya kereta akan jalan.
Tok...tok...tok. Seseorang mengetuk jendela kereta dekat Fira duduk. Orang itu memperlihatka  sebuah tulisan.
Saya suka kamu!
Mau nggak jadi pacar saya?
Bahasanya tampak kaku. Fira pun kaget saat membacs tulisan itu. Fira mengambil kertas bindar  dan menuliskan sesuatu.
Saya juga!
Yes, I do.
Komunikasi tanpa suara ini membuat Fira cukup lega. Karena orang itu yang adalah Adam datang tiba-tiba dan membuat pernyataan kalau ia suka pada Fira.
Kamu hati-hati, ya. Maaf gak menghilang gitu aja! Maaf.. saya sedang sibuk dengan proposal.
Fira bernafas tepat di jendela sehingga membuat uap di jendela. Fira menuliskan sesuatu di sana.
Thank you, Mr. Adam!

Kereta pun berbunyi dan jalan. Adam melambaikan tangan pada Fira. Fira pun begitu. Perasaan Fira antara senang, sedih, risau tapi membahagiakan. Akhirnya, terjawab sudah penantiannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar