penantian
yang sempurna
matkul
matematika akhirnya sudah selesai,para mahasiswa\ipun berbondong-bondong keluar
kelas. Meskipun ada beberapa dari mereka yang masih di dalam kelas. Termasuk,
Fira. Fira masih berada di dalam kelas karena ia masih mencatat tulisan yang
ada di papan tulis. Sementara teman-teman kelasnya sudah keluar kelas terlebih
dahulu. Fira yang tinggal seorang diri di kelas tak tergugah untuk melewatkan
tulisan penting dari dosen mtk di papan tulis.
Selesai
mencatat, ia merapikan alat tulisnya dan memasukkan ke dalam tasnya. Ia pun
bergegas ke luar kelas karena hari sudah cukup sore. Fira melewati koridor, ia
mendengar teriakan anggota cheerleader yang menyemangati pertandingan basket.
Koridor kampus memang dekat dengan lapangan. Sorak sorai mereka memang sangat
menghebohkan. Ya, maklum saja ketua cheers adalah Adilla yang suaranya cetar
membahana seantero kampus.
BUG!
Bola
basket mengenai Fira sampai kacamata yang dipakai Fira terjatuh. Fira masih
berdiri walaupun ia agak pusing kena hantaman bola basket yang cukup keras.
Sang kapten basket sekolah keluar lapangan ia menghampiri Fira. Krek! Kapten
basket yang bernama yama menginjak kacamata Fira sampai lensanya hancur dan
bingkainya patah.
"Sorry,
ya, lo gapapa kan?" Yama merasa tidak enak karenanya Fira kena bola
basket.
Fira tak
menggubris permintaan maaf Yama. Fira membereskan pecahan kaca mata ia
mengambil kotak kacamata dan menaruhnya. Perasaan kesalpun menyelimuti dirinya.
Rasanya ia ingin menghantam Yama dengan bola basket yang ada di dekatnya.
Bagaimana bisa Yama melakukan kesalahan dua kali seperti ini.
Fira
bangkit. Ia tak sadar kalau tali sepatunya belum diikat. Parahnya lagi, Yama
menginjak tali sepatu Fira akhirnya Fira terjatuh. Tepat dahi dan bibirnya
menyentuh lantai koridor. Memalukan! Batin Fira. Sementara anak-anak yang
melihat kejadian itu tertawa tanpa dosa padahal Fira sedang kesakitan.
"Gue...minta
maaf." Kata Yama.
Tak
peduli berapa maaf yang Yama ucapkan. Fira terlanjur malu dan ia meninggalkan
Yama karena tak kuat menjadi bahan tertawaan siswa lainnya.
Langkah
Fira semakin pelan ia merasa bahwa hari ini tertimpa sial. Lucunya, kesialan
itu terjadi secara berturut-turut. Ia masih berpikir apa yang akan ia katakan
pada saudara tirinya atas kacamata yang pecah. Itu kan pemberian dari Poppy.
Pasti Poppy sangat marah kalau pemberiannya hancur. Dan Ayah akan membelanya
begitupun ibu. Ia pasrah kalau kena marah orang-orang rumah.
Fira
duduk di halte sambil memandangi kotak kacamata yang hancur. Ia tak peduli
dengan memar di kepala atas insiden tali sepatu tadi. Fira menghela nafas,
rasanya hari ini berat sekali. Belum lagi pasti besok teman-teman akan
menertawakannya karena memar di kepalanya itu.
Cheees!
Metromini
berhenti di depan halte. Fira masuk ke dalam metromini. Bau dan sesak itulah
yang dirasakan. Apalagi sore begini, jam orang pulang sekolah. Alhasil Fira
nggak kebagian tempat duduk. Ia memegangi besi panjang metromini agar tak
terjatuh karena metromini cukup ngebut dan terkadang ugal-ugalan.
"Dek,
duduk sini aja." Seorang pria menawarkan bangku. Fira menggeleng karena ia
merasa masih kuat berdiri.
"Duduk
aja dek, lagian saya mau turun kok."
Akhirnya
Fira menerima tawaran pria itu. Fira pun duduk. Ia memandangi pria itu. Katanya
mau turun tapi ia masih berdiri sambil memegang tiap di atap metro. Fira merasa
tidak enak. Karenanya orang jadi kesusahan.
"Warung,
warung, warung." Kenek metro berteriak.
Pria
itupun turun, begitupun Fira. Fira masuk ke stasiun, pria itupun juga. Mereka
menunggu kereta dan duduk di bangku yang ada di stasiun. Fira duduk berseblaahan
dengan pria itu. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Yang terdengar hanya
suara kereta barang yang melewati rel. Sangat keras bahkan bagi yang belum
biasa bunyi kereta itu sangat memekakkan telinga.
"Dek,
anak trisakti?" Tanya pria itu.
Fira
mengangguk.
"Gak
biasanya liat anak trisakti naik metromini. Biasanya diantar pake mobil.
Hehe." Pria itu terkekeh.
Fira
merasa pria ini terlalu mencampuri urusannya. "Ya emang kenapa kalo naik
metromini? Ada aturannya, ya?" Fira agak ketus.
Pria itu
menggeleng. "Yo, ndak usah diambil hati dek. Cuman bercanda."
"Jangan
bilang kakak ini anak kampus sebelah kampus saya?" Fira mencoba ramah.
Pria itu
terkekeh. Sepertinya dugaan Fira seratus persen benar. "Nah tuh tau
dek,"
Adam. Begitulah
tulisan di jaket yang dikenakan pria itu. Fira mengangguk pelan seraya paham
akan sesuatu. Pria itu heran kenapa Fira menganggukkan kepala.
"Kenapa
dek ngangguk-ngangguk?"
"Gapapa,"
"Dahi
kamu memar tuh. Kenapa? Kesandung apa kena hantam bola?"
Fira
kaget kenapa pria itu bisa tahu kejadian yang dialami Fira. Fira memandang Adam
heran. Adam pun merasa senang kalau-kalau dugaannya benar. Fira memegangi
dahinya mengeluarkan segaris darah. Dengan sigap, Adam mengeluarkan hansaplast
dari sakunya dan memberikannya pada Fira.
"Pake
dulu aja dek,"
"Makasih."
Fira membuka plester dan memakai pada dahinya.
"Pertanyaan
kakak belom dijawab, kenapa bisa memar gitu?"
"Kesandung
tadi temen nginjak tali sepatu."
Tak lama
kereta mereka datang. Sudah sore memang kereta cukup berdesakkan. Adam menarik
Fira yang tidak bisa naik ke kereta karena peronnya cukup tinggi. Mereka berada
di gerbong dua. Gerbong campuran lelaki dan wanita.
***
"Aku
pulang," Adam membuka pintu rumah. Tampak sepi seperti biasanya. Rumah
memang selalu sepi paling yang ada hanya si Bibi.
Adam
naik tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Sesampainya di kamar, ia
melempar ranselnya yang cukup berat ke kasur. Adam melihat secarik kertas. Adam
memgambil secarik kertas itu dan membacanya perlahan.
Adam,
mama ada meeting di Surabaya. Lalu, papa ada pertemuan di Jogja. Uang jajan
udah mama transfer ke rekening kamu. Jaga kesehatan ya.
Membaca
surat itu Adam meremasnya dan melemparnya ke tong sampah. Rasanya, ia hidup
hanya dengan Bibi. Orang tua terlalu sibuk kerja, kerja, dan kerja. Mana ada
waktu hangout bersama? Cih, hangout? Makan di meja yang sama saja jarang.
Tok..tok
"Masuk,
nggak dikunci."
Bi Inah
membawa beberapa snack dan segelas jus mangga. Bi Inah menaruh panganan dan
minuman tersebut di meja belajar. Setelah itu, Bi Inah pun keluar kamar.
"Bi,"
"Nggeh,
den. Ono opo?"
"Makasih
ya, tau aja saya lagi laper."
"Kalo
laper makanannya ada di meja makan ya den."
"Iya,
Bi."
***
Fira
sedang sibuk belajar bahasa inggris. Agak menyulitkan tanpa kacamata. Pandangan
Fira agak sedikit buram padahal sudah pakai lampu duduk untuk belajar tapi itu
belum mampu membantu penglihatannya. Apa boleh buat untuk hari ke depan Fira
tidak pakai kacamata minus, walaupun masalah baginya.
Poppy
membuka pintu kamar. Ia masuka kamar Fira tanpa permisi. Itu sudah biasa bagi
Fira, Poppy memang orangnya begitu. Lagipula, ini kan rumah Poppy jadi wajar
saja ia melakukan semuanya. Ya, semenjak ayahnya Poppy dan ibunya Fira menikah,
sesungguhnya Fira kurang nyaman. Ia justru menolak pernikahan ini. Ingin sekali
ia menginap di rumah ayahnya di Depok daripada harus diganggu Poppy.
"Gue minjem pulpen dong."
"Ambil
aja ya di tas."
Poppy
menggeledah tas Fira. Ia menemukan pulpen, ia mengambil tiga pulpen yang baru
Fira beli dua hari yang lalu. Poppy mengambil kotak kacamata yang ia berikan
pada Fira, beberapa bulan lalu. Ternyata kacamata darinya kini hancur lebur.
"Apa-apaan
nih?!" Poppy emosi.
"Ada
apa?" Fira bangkit dari bangku.
Poppy
menggelengkan kepala. "Kacamata dari gue lo ancurin? Lo gatau nih kacamata
harganya berapa? Bingkainya aja mahal Ra,"
"Ya,
gue minta maaf. Tadi di sekolah ada insiden jadi ya gini."
Tiba-tiba
mama datang.
"Ada
apa ribut-ribut?"
"Kacamata
dari aku masa Fira ancurin. Ini kan mahal ma," Poppy merengek
"Ya,
aku minta maaf ma. Nanti aku ganti ma," Fira mencoba meluruskan segalanya.
"Heh,
Ra, kamu pikir semua bisa kelar dengan uang?!!"
"Udah
dong kalian jangan ribut!" Mama melerai.
Fira
mengeluarkan lembaran uang dari dompet dan memberikannya pada Poppy. Poppy
melihat Fira kesal tapi di sisi lain sayang juga kalau uang dari Fira dibuang
mending buat teraktir teman-teman di sekolah.
Fira
mengambil buku di meja belajar dan keluar kamar. Ia pun pergi keluar rumah.
Fira berjalan dan terus berjalan sambil mencari tempat singgah untuk belajar.
Bunyi perutnya keroncongan, ia menemukan pos di mana di situ ada tukang nasi
goreng lagi mangkal. Fira menghampiri tukang nasi goreng dan duduk di pos.
"Nasi
goreng satu, gak pake mecin, gak pedes." Pinta Fira.
"Payah,
masa nggak pedes?" Celetuk Adam yang ternyata duduk di pinggiran pos
sambil makan nasi goreng.
"Kamu?"
Fira kaget kenapa bisa bertemu Adam di sini?
"Kamu
papparazi, ya?" Lanjut Fira
Adam
tertawa, ia pun tersedak mendengar pertanyaan Fira. Papparazi? Ya, mungkin ini
suatu takdir. Pertemuan kan bukan kebetulan tapi suratan. Adam meneguk segela
air putih sementara Fira menunggu tukang nasi goreng membuatkan pesanannya.
"Kamu
aneh ya, saya bukan papparazi. Rumah saya dekat sini. Jadi wajar kan kalo saya
makan di sini. Kamu sendiri?"
"Saya
sih emang rumahnya deket sini Blok C3." Fira menjelaskan.
Tak lama
pesanan Fira datang. Fira tak memperdulikan Adam ada di situ karena ia lapar
iaenyantap nasi goreng tersebut sambil membuka buku pelajaran. Adam yang
melihat Fira begitu sibuk jadi iba. Mana bisa Fira melakukan dua kegiatan?
Makan dan belajar?
"Ada
tugas apa dek?"
"Bahasa
inggris." Jawab Fira sambil menyantap nasi goreng.
"Aku
kan ambil jurusan inggris dek, sini saya
bikin rumus tenses dibuku adek."
"Gak
usah,"
"Kenapa?
Udah abisin dulu tuh nasi goreng."
"Iya
Kak Adam." Fira menyantap nasi goreng.
Adam
tercengang kenapa Fira tahu namanya. "Kamu tau nama saya?"
"Dari
jaket yang kemarin dipakai," Fira melahap nasi goreng lagi.
"Oh
itu," Adam menuliskan beberapa tenses di buku Fira.
***
Satu,
dua, dan tiga hari. Yama datang menghampiri Fira meminta maaf. Sebenarnya dari
jauh-jauh hari Fira sudah memaafkannya tetapi ia malas bilang kalau ia sudah
memaafkan kejadian tersebut mengingat sikap Poppy yang kemarin memarahinya.
Belum lagi uang simpanannya habis dikasih ke Poppy daripada Poppy ngoceh mulu.
Padahal kacamata itu katanya untuknya kenapa Poppy malah marah.
"Yaudahlah,
ya Yama. Udah dimaafin dan please jangan ganggu lagi." Kata Fira, ia pun
melanjutkan baca buku di pinggir koridor.
"Bener
nih dimaafin?"
"Ya,"
"Nanti
malam ada acara nggak?"
"Ada."
Jawab Fira singkat.
"Apa?"
"Belajar.
Soalnya UTS udah mendekat!"
Yama
menggaruk kepalanya. Padahal malam ini, Yama ingin mengajak Fira ke suatu
tempat tapi kenapa susah sekali. Alasannya pun belajar. Tidak usah belajar juga
Fira sudah pintar.
"Kali
ini aja deh Fir, please."
"Nggak
bisa, kan udah dibilang jangan ganggu Fira. Yama dibilang nggak ngerti juga
ya," Fira semakin kesal.
"Sekali
aja sih,"
Rasanya
terlalu jual mahal kalau menolak permintaan maaf teman yang sungguh-sungguh.
Fira akhirnya pikir dua kali untuk tolak tawaran Yama. Sepertinya ia setuju
dengan tawaran Yama. "Yaudah," Fira melipat lembaran buku.
"Di
cafe hoki ya, jam 7. Gue jemput lo depan rumah lo ya."
Fira
mengangguk. "Eh, emang tau rumah Fira?"
"Tau
lah, kemarin gue buntutin lo kali," Yama keceplosan.
"Sampai
ketemu nanti malam." Lanjut Yama dan kabur begitu saja.
***
Tepat
jam 7. Fira menunggu Yama di depan gerbang rumahnya. Sebenarnya ia takut kalau
ketahuan sama mama dan papa. Apalagi Poppy yang mulutnya ember kalau belum
disogok pakai uang. Sudah lima menit Fira menunggu. Sesekali ia memeluk
badannya, padahal ia sudah pakai baju panjang tapi angin malam semakin dingin.
Suara
motor terdengar mendekat ke arah Fira. Lampu yang cukup menyilaukan membuat
Fira menutup matanya. Yama pun membuka helm dan menyuruh Fira naik ke motor.
Yama menggeber motornya dan mereka pun menaiki motor berdua. Ternyata, Poppy si
mulut ember melihat kejadian itu dan pikiran licik pun mulai meracuni
pikirannya.
Suara
motor Yama memang cukup keras. Setidaknya suara motor itu membuat keramaian
tersendiri. Tak ada satupun yang memulai percakapan. Yama sibuk mengendarai
motor. Sedangkan Fira hanya diam tanpa kata sambil memandangi jalanan.
"Sepi
aja Fir," Yama memulai percakapan.
"Fir,
tidur ya?"
"Enggak,
sebenarnya kita tuh mau kemana? Cafe hoki tuh belok kanan,"
Yama sebenarnya berencana pergi ke tempat
lain. Ia ingin membelikan kacamata baru untuk Fira. Karena selama tak pakai
kacamata Fira agak terganggu dengan penglihatan dan Fira lebih memilih pinjam
catatan kawannya daripada melihat papan tulis.
Mereka
sampai di sebuah mall kawasan Jakarta Utara. Yama mengajak Fira ke sebuah
optik. Optik itu adalah milik mamanya Yama. Fira melihat berbagai kacamata
bagus di sana. Ia hanya berani melihat karena uangnya pasti tak cukup.
"Ini
teman kamu yang kamu ceritain? Yama?" Tanya Mama Yama sambil tersenyum.
"Nama
saya Fira, tante."
"Oh,
Fira. Ayo dipilih kacamatanya. Kamu min berapa, Fir?"
"Minus
dua tante."
Mama
Yama memeriksa mata Fira untuk memastikan kacamata yang cocok. Sementara Yama
duduk di sofa sambil main get rich.
"Nah,
ini cocok buat kamu." Mama Yama memberikan kacamata lengkap dengan
pembersih dan casenya.
"Ini
berapa tante?"
"Gak
usah, itu buat kamu. Tante tau kacamata kamu dirusak kan sama si Yama."
"Tapi
ini berlebihan,"
"Enggak
kok, sering-sering main kesini ya, Fira."
Suara
pintu terdengar. Ternyataa ada seorang pria masuk. Yama menyambut pria itu
dengan akrab begitupun Mama Yama. Fira yang sedang mencoba kacamata barunya pun
berbalik ingin melihat siapakah sosok tersebut. Ternyata, sosok itu.....Adam.
"Kamu,"
Adam dan Fira bebarengan.
Fira
tidak tahu kenapa perasaannya tidak karuan begini. Sebenarnya ia sudah bertemu
Adam secara tak sengaja selama dua kali. Dan ini yang ketiga, tapi rasanua
berbeda rasanya berbeda dengan pertemuan sebelumnya.
"Kalian
saling kenal?" Yama heran.
"Rumah
kita deketan, kita juga udah ketemu secara enggak sengaja dua kali. Dan ini
yang ketiga."
Mama
Yama bahagia karena Adam mengenal Fira juga. Jadi semakin seru malam ini karena
semuanya sudah saling kenal. Mama Yama menelepon makanan delivery order untuk
diantar ke optiknya.
"Jangan-jangan
kalian berjodoh." Celetuk Mama Yama.
Yama
yang mendengar itu sontak langsung berdiam.
"Btw,
saya masih nggak tau nama kamu. Nama kamu siapa?" Tanya Adam pada Fira.
Adam mengulurkan tangannya.
"Fira."
Fira menjabat tangan Adam. Fira merasa aliran darah mengalir begitu cepat. Ia
bingung apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Makanan
datang!!' Mama Yama membawa banyak makanan karena tadi si pengantar makanan
sudah datang. "Ayo, kita makan-makan!"
"AYOOOOO!!!!"
Adam dan Yama sangat bersemangat.
***
Kedekatan
Adam dan Fira semakin berlanjut. Tanpa sepengetahuan Yama ternyata Fira dan
Adam suka bertemu. Adam dan Fira kalau bertemu hanya makan dan belajar bersama.
Terlebih Fira banyak belajar dari Adam tentang mata pelajaran yang sulit. Fira
baru tahu kalau kebahagiaan itu bisa ditemukan kapanpun.
Begitupun
Yama di kampus selalu mendekati Fira. Fira menganggap itu wajar karena Yama
adalah temannya. Yama sering minta bantuan Fira untuk mengajarkannya pelajaran
eksakta yang susahnya bukan main apalagi beberapa hari lagi UTS akan tiba.
Lalu,
Poppy yang tak henti-hentinya tiap minggu minta jatah mingguan karena ia
mengancam kalau Fira tak memberikannya uang. Poppy tak segan-segan
membocorkannya pada papa dan mama. Padahal Poppy sendiri suka jalan sama cowok
dan Fira tak pernah minta uang buat jaga mulut.
Hari ke
hari, hari semakin berat buat Fira karena ia harus belajar ekstra keras demi
UTS. Hari yang menegangkan pun tiba. Fira menyambut hari itu dengan was-was.
Tak lupa ia berdoa pada Allah agar dimudahkan dalam mengerjakan soal Uts.
Sampai hari twrakhir Uts, Fira pun terus berdoa mrminta yang terbaik.
waktu
mengerjakan soal pun selesai. Wajah anak kelas teknik pun cerah dan ceria
karena UTS telah usai. Begitupun Yama, sanking leganya ia langsung menghampiri
Fira untuk mengajaknya makan siang bersama.
"Punya
waktu luang, Fir?"
"
Ada apa, Yama?"
"Pengin
ngajak Fira makan siang sih, bisa?"
Fira
menggaruk kepalanya. "Gimana ya, hari ini Fira ada janji sama orang lain.
Lain kali ya, Yama."
"Orang
lain itu Adam?"
Fira
hanya teraenyum malu. Tak lama Adam datang,
ia menunggu di gerbang kampus dan naik metromini bersama. Rencananya
mereka ingin pergi ke Depok menemui Papa kandung Fira. Sesampainya di sana,
Fira dan Adam masuk ke rumah Papa Fira yang sederhana tapi asri. Disana banyak
tanaman dan nampak sejuk sekali.
Semua
tanaman itu dirawat Papa Fira sendiri karena Papa Fira suka tanaman. Ditambah
Papa Fira waktu kuliah jurusan Protekai Tanaman. Sekarang pun, ia bekerja di
laboratorium pertanian yang letaknya dekat Fira kuliah sekarang.
"Pa,
kenalin ini teman Fira."
"Saya
Adam, Om." Adam memperkenalkan diri dengan sopan.
Papa
Fira tersenyum melihat Fira sekarang. Tampaknya putri kecilnya sudah dewasa dan
sudah bisa memilih mana teman yang baik. "Teman apa pacar, nih?"
Ledek Papa sambil tersenyum.
Mendegar
itu Fira jadi malu. Tapi di sisi lain ia cukup sedih karena sebenarnya
hubungannya dengan Adam itu apa. Terlalu jauh untuk dibilang pacar dan dibilang
pacar juga bukan. Fira memutuskan untuk masuk ke dapur mengambil air dingin.
Adam pun membuntutinya.
"Sebenarnya
kita tuh apa sih?!" Tanya Fira sambil menuang air es ke dalam gelas.
"Menurut
kamu?"
"Aku
nggak bercanda Adam, kita tuh apa? Maksud aku, aku dan kamu itu apa? Jujur aku
juga bingung."
"Lalu, kalo aku dan kamu udah jadi kita.
Kamu mau apa? Keadaannya sama kan? Lagian aku nggak akan kemana-mana."
Jawab Adam enteng.
Fira
membanting pintu lemari es. "Aku nggak ngerti, susah ya ngomong sama
kamu!" Fira meninggalkan Adam sendiri di dapur.
Tak lama
Adam pun keluar dan ia melihat Fira yang sedang kesal duduk di bangku yang ada
di teras. Adam pamit pulang.
"Kamu
enggak pulang, nak? Nanti papa mama kamu cariin kamu lho." Kata Papa
sambil menyemprot cairan entah cairan apa ke tanaman.
"Enggak,
nanti aku telepon mama." Jawab Fira dengan nada agak kesal.
"Yaudah,
Om. Saya pamit ya,"
"Ra,
aku pamit ya."
"Heeem,"
Jawab Fira.
Tak
terasa hari sudah malam. Tak lupa, ia mengabari mama bahwa ia hari ini tidak
pulang ke rumah karena ia ingin bersama papanya di Depok. Fira ingin refreshing
setelah UTS. Mengingat perdebatannya dengan Adam. Ia menjadi semakin kesal.
"Nak,"
Papa menggeser bangku dan duduk di teras.
"Iya,
Pa? Papa nggak tidur?"
Papa
menggeleng. "Kamu kenapa gak tidur? Kepikiran cowok tadi ya? Hayoo
ngaku."
"Papa
apaan sih?"
"Ngaku
aja."
Fira
menghela nafas. "Dia tuh maunya apa ya, dia nggak ngasih kejelasan sama
Fira. Sebenarnya aku sama dia tuh apa. Fira kesel Pa, ini kan hati Pa,"
"Gini
lho nak, papa bisa lihat dia itu baik sama tanggung jawab. Dia gak akan
ninggalin kamu kok, kamu tau kenapa dia bingung saat ditanya kayak gitu?"
"Enggak,
terus kenapa?"
"Karena
dia takut kehilangan kamu. Dia sebenarnya ingin kaya orang-orang yang pacaran
di publikasi tapi dia mikir apa sekarang dia udah pantas buat kamu atau belun.
Dia juga masih kuliah nak, apalagi baru semester empat."
"Jadi
gitu, terus Fira harus gimana, Papa?"
"Ya,
kamu jangan kebanyakan nuntut ndok, jalanin aja. Lagian kalian kan masih muda.
Jalani aja dulu,"
"Makasih,
ya, Pa."
Bip!
Adam
Shalat
dulu sana ntar ketiduran.
"Tuh
pasti dia."
"Kok
tau?"
"Taulah
muka kamu langsung merah gitu, shalat dulu sana nanti ketiduran, ndok."
"Iya,
Papa."
****
Sudah
dua minggu Fira belum pulang ke rumah Papa tirinya. Ia masih ingin menghabiskan
waktunya di Depok dengan Papa. Tak terasa pengumuman NILAI UTS pun sudah bisa
dilihat diwebsite universitas ,Fira membuka website dan mengisikam nomor.
sempurna
!! ya..nlai UTS fira sempurna dengan nilai A semua
"PAPA......"
teriak Fira
Papa
Fira kaget setengah mati mendengar lengkingan teriakan dahsyat putrinya dari
depan teras rumah. Papa yang sedang menyeduh kopi pun meninggalkan secangkir
kopi yang belum diberi gula dan belum juga diaduk.
"Opo
toh, ndok. Papa lagi nyeduh kopi."
“liat
paa nilai fira udah keluar dan sempurna." Fira memeluk papanya.
"Alhamdulillah
Ya Allah," Papa mengucap syukur begitupun Fira.
Setela
bereuforia dengan Papa. Fira langsung mengabari Adam. Tapi tak ada balasan
darinya. Fira mencoba menghubungin Adam melalui Whatsapp, LINE, sms, dan juga
menelepon tapi Adam tak menggubrisnya. Padahal nomornya aktif.
Beberapa
hari kemudian, Adam tak pernah muncul di beberapa sosial media. Bahkan saat
Fira menghubungi Adam tak pernah menjawabnya. Entah mengapa Adam menghilang
seolah ditelan waktu menghilang tanpa jejak dan pamit. Fira semakin dilema. Ia
hanya bisa sabar menghadapi sikap Adam yang aneh.
Hari itu
tiba, di mana Fira harus pergi ke Malang untuk berlibur kesana kerumah nenek
dan kakek fira,karena sudah lama fira tidak berkunjung.Fira berangkat menuju
Stasiun Senen. Bawaannya yang cukup banyak membuatnya kewalahan. Papa tak bisa
mengantarnya karena Papa sibuk bekerja. Yama pun tak bisa datang karena ia ada
urusan mendadak. Lalu, Adam. Fira hanya bisa menatap ponsel yang wallpapernya
adalah dirinya dan Adam.
Kereta
datang. Fira langsung masuk ke gerbong dan mencari tempat duduknya. Setelah
menemukan tempat duduk yang cocok dengan nomor tiket. Fira duduk seorang diri
di sana. Ia menghela nafas panjang rasanya berat meninggalkan keluarga tiri,
Papa, dan Mamanya.
Kereta
berbunyi tandanya kereta akan jalan.
Tok...tok...tok.
Seseorang mengetuk jendela kereta dekat Fira duduk. Orang itu
memperlihatka sebuah tulisan.
Saya
suka kamu!
Mau
nggak jadi pacar saya?
Bahasanya
tampak kaku. Fira pun kaget saat membacs tulisan itu. Fira mengambil kertas
bindar dan menuliskan sesuatu.
Saya
juga!
Yes, I do.
Komunikasi
tanpa suara ini membuat Fira cukup lega. Karena orang itu yang adalah Adam
datang tiba-tiba dan membuat pernyataan kalau ia suka pada Fira.
Kamu
hati-hati, ya. Maaf gak menghilang gitu aja! Maaf.. saya sedang sibuk dengan
proposal.
Fira bernafas
tepat di jendela sehingga membuat uap di jendela. Fira menuliskan sesuatu di
sana.
Thank
you, Mr. Adam!
Kereta
pun berbunyi dan jalan. Adam melambaikan tangan pada Fira. Fira pun begitu.
Perasaan Fira antara senang, sedih, risau tapi membahagiakan. Akhirnya,
terjawab sudah penantiannya.